Saturday, November 04, 2006

Menyelami Dunia Gemerlap

Dugem (dunia gemerlap), begitulah istilah yang digunakan oleh sebagian remaja kita dan mereka yang gemar menghabiskan waktu malamnya untuk berpsta pora baik bersama pasangan mereka masing-masing maupun koleganya. Istilah ini sangat dikenal di kalangan remaja dan mereka yang menggandrungi pesta dan hiburan malam. Biasanya acara dugem-an dilaksanakan di kafe-kafe atau bar dengan berbagai seguhan menu makanan dan minuman serta acara yang menggiurkan.

Di kafe-kafe atau bar kelas menengah yang biasa dihadiri oleh remaja dan masyarakat kelas menengah ke bawah biasanya cukup dengan menyuguhkan band-band lokal dan sesekali mendatangkan group musik papan atas serta karaoke untuk mengiringi para muda-mudi berlantai (berdansa dengan pasangan mereka masing-masing). Sedangkan kafe-kafe atau bar bergengsi yang hanya bisa dihadiri para beruang atau oleh mereka yang berkantong tebal dan eksekutif muda, tidak jarang dengan menghadirkan para penari telanjang dan berbagai bentuk acara yang jauh dari etika ketimuran, apalagi norma agama.

Namun baik kafe kelas menengah hingga kafe bergengsi yang menyediakan fasilitas dugem-an, tetap memiliki beberapa kesamaan, yaitu : biasanya sebuah kafe terasa tidak lengkap tanpa menyediakan berbagai jenis minuman beralkohol, hanya saja mungkin kualitas dan harga yang berbeda. Kesamaan lainnya adalah bahwa kafe-kafe yang menyediakan pesta malam sangat identik dengan hura-hura, pergaulan bebas, menghamburkan uang, mabuk-mabukan, erotisme, seksualitas, narkoba, serta membuang-buang waktu, sebab biasanya pesta itu dilaksanakan semalaman suntuk.

Bagi sebagian remaja yang akrab dengan dunia dugem ada satu anggapan bahwa seseorang dinggap tidak gaul, tidak funky dan kampungan jika belum pernah menikmati kehidupan kafe dengan dugemnya. Anggapan yang keliru ini mereka lontarkan sebagai justifikasi terhadap apa yang mereka lakukan.

Kehidupan malam yang hingar-bingar dengan lantunan suara musik yang keras, dansa dengan saling berpelukan antara lawan jenis yang diselingi tawa canda yang mengumbar aroma alkohol tidak hanya melanda kota-kota besar saja, tapi juga kota semi metropolis dan telah menjadi bagian gaya hidup manusia modern. uniknya realitas semacam ini oleh sebagian pecinta kehidupan malam atau dugem sudah dianggap sebagai tradisi yang wajar dan dibenarkan.

Selama ini kita sering mendengar bahwa sebagian remaja dengan bangga mengatakan bahwa sekalipun mereka mendatangi kafe-kafe untuk menghabiskan malam minggu bersama orang yang dikasihi ataupun teman-temannya, mereka hanya sekedar tripping, berlantai (berdansa) namun tidak ikut-ikutan minum-minuman beralkohol maupun narkoba.

Argumentasi ini sekaligus dijadikan sebagai justifikasi terhadap apa yang mereka lakukan. Ada statemen yang mengatakan bahwa lingkungan mempengaruhi manusia. Biarpun menurut mereka mereka tidak minum minuman beralkohol atau menggunakan narkoba, namun seiring berjalannya waktu, mereka akan terpengaruh oleh lingkungan, apalagi pada masa remaja yang masih sangat labil.

Thursday, November 02, 2006

Ketika Sejarah Kita Dikendalikan

Ada pepatah, "menguasai masa lalu berarti mengusai masa kini." Pepatah inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa rezim Orde Baru sangat merasa berkepentingan dengan sejarah sekaligus pengendalian atasnya. Apalagi jika diingat, legitimasinya memang banyak ditopang pada pemahaman terhadap masa lalu terebut. Maka dari itu, tumbangnya rezim Orde Baru juga berarti delegitimasi sejarah yang menjadi sandarannya.

Setidaknya ada dua cara pengendalian sejarah. Pertama, dengan penambahan unsur tertentu dalam sejarah. Kedua, yaitu dikenal dengan istilah kebisuan sejarah, yang dalam prakteknya berkaitan dengan prinsip legitimasi, kondisi dan pandangan tertentu masyarakat, dan menyangkut hal-hal yang memalukan di masa lampau. Praktek pengendalian sejarah dengan cara yang kedua ini lebih luas dan umum, baik berupa pemalsuan, penambahan, penghilangan dan pendistorsian suatu peristiwa dalam periode-periode tertentu atau salah satu dari beberapa aspek peristiwa tersebut. Pengendalian sejarah pada umumnya dilakukan oleh negara, tetapi kalangan msyarakat, sejarawan, penulis roman, sutradara film dan lain-lain kadang juga terlibat di dalamnya. Terutama jika kelompok-kelompok masyarakat atau individu-individu ini memiliki kepentingan tertentu atas suatu versi sejarah atau telah terkontaminasi oleh ideologi pengendalian sejarah yang dibangun negara.

Jauh sebelum rezim Orde Baru tumbang sudah banyak kritik terhadap ideologi penulisan dan pengajaran sejarah. Beberapa sejarawan, novelis, dan pembuat film, yang menyadari adanya pengendalian sejarah itu, telah mencoba membuka kebisuan sejarah tersebut melalui karya-karya mereka. Tetapi sebagaimana kita tahu, karya-karya mereka yang bertentangan tafsir resmi negara, dilarang beredar, dan bahkan kadang mereka harus mengalami restriksi, teror dan ancaman, bahkan ada yang dibuang ke luar negeri, seperti sosiolog Soe Hok Djin, atau yang dikenal sebagai Arief Budiman.

Salah satu kebisuan sejarah paling kelam yang pernah terjadi di Indonesia adalah sekitar periode 1920-an, dengan subjek komunisme di Indonesia. Periode tahun-tahun ini yang berkaitan dengan orang-orang di persimpangan kiri jalan (meminjam istilah Soe Hok Gie) sangatlah (di)gelap(kan) dalam sejarah resmi nasional. Publikasi beberapa buku atau roman yang mencoba memberikan tafsir lain atau tandingan pada sejarah resmi versi buku putih pemerintah telah diberangus dan dilarang, seperti karya Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, juga karya Harry A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik I, dan, tentu saja, tetralogi karya novelis Pramoedya Ananta Noer. Akhirnya, banyak lahir media sejarah versi buku putih, yang tentu saja menjadi alat propaganda pemerintah saat itu. Pada buku pelajaran sejarah di sekolah misalnya, para siswa dijejali dengan informasi sejarah yang sebagian besar telah dikendalikan, misalnya saja teori mengenai dalam G30S, yang tentu saja di sana PKI disalahkan secara penuh.

Kini kita berada di alam reformasi, di mana demokrasi berkumandang di mana-mana, serta sejarah dari pengendalian sejarah telah banyak terkuak, maka untuk mencapai kearifan hidup yang diambil dari kaca benggala sejar, jauh lebih baik dengan mempelajarinya secara seksama dan menyeluruh. Bukan dengan membunuh ingatan terhadap sisi sejarah yang dianggap kotor dan busuk, lalu dengan itu menghukuminya, tanpa pengetahuan yang memadai terhadap sisi sejarah tersebut.

Adakah memang kita betul-betul mencapai kearifan hidup di masa depan dengan cara membunuh ingatan kita terhadap sisi, yang kita anggap secara semena-mena tanpa sepenggal pun pengetahuan, gelap dan rawan dari sejarah perjalanan bangsa. Atau adakah kita ingin mencapai kearifan sejarah tersebut dengan cara mempelajarinya secara sungguh-sungguh dan seksama?

Soe Hok Gie (Bab IX - Penutup)

Pada dasarnya Soe Hok Gie adalah manusia biasa sama seperti massa rakyat Indonesia lainnya, namun latar belakang keluarnga dan lingkungannya secara tidak sengaja membentuk kepribadianya yang unik dan khas, terutama pada saat di sekolah di Kanisius dan berkuliah di Universitas Indonesia. Di sekolah dan kampus itu Soe Hok Gie secara kebetulan dan ternyata menjadi hobinya, yaitu membaca bacaan “terlarang” pada massa itu dan sanggat tidak lazim dibaca oleh anak muda seumurannya dan sangat dengan cepat deresapi dan ia pahami. Mungkin kalau saat ini anak-anak seumurannya paling suka membaca novel cinta, buku komik, atau bahkan komik porno, buku stensil porno, film porno, chat porno, dan lain sebagainya.

Dengan membaca buku buku idealis dan filsafat, ternyata dapat merubah pemikiran, karakter, watak seseorang sehingga bebuah pemikiran pemikiran baru dalam konteksnya sendiri-sendiri.

Mencoba memahami Gie sama saja dengan mencoba untuk memahami perjalanan sebuah idealisme. Gie begitu teguh mempertahankan idealismenya, bahkan cenderung tanpa kompromi dan blak-blakan. Namun ada satu hal yang saya pikir cukup ironis terjadi pada Gie. Gie begitu teguh berupaya mempertahankan perjuangannya bebas dari pengaruh maupun konspirasi politik manapun. Gie selalu berupaya untuk mempertahankan kemurnian perjuangan khususnya gerakan mahasiswa. Namun ternyata upaya ini gagal ketika ia terlibat di dalam gemuruh politik 1966. Ia terjebak pada konspirasi politik yang dijalankan tentara untuk mendongkel kekuasaan tentara. Namun bagaimanapun juga gie harus dihormati, perjuangannnya untuk mempertahankan idealisme hingga akhir hayatnya layak untuk diacungi jempol. Bagi gerakan mahasiswa kegagagalan gie tersebut dapat menjadi pelajaran untuk menyusun model strategi perjuangan baru yang dapat meminimalisir bias politik namun dapat memaksimalisasikan implementasi idelisme. “Gie: Sebuah Idealisme Yang mencoba Untuk Mematerial”.

Ada kebenaran relatif yang membuat Gie bisa populer. Kepopuleran Gie tidak bisa lepas dari kondisi yang ada pada saat itu, kondisinya benar-benar mendukung. Di mana Gie mempunyai “kelainan” dalam hal berorganisasi. Para aktivis saat itu sudah terjebak oleh politik aliran (kampus), sedangkan Gie sama sekali tidak begitu tertarik, termasuk terhadap organisasi PMKRI yang mempunyai latar belakang Katolik sebagai pegangan agama keluarga Gie.

Gie Hanyalah seorang kutu buku. Dari hasil bacaannya itulah Gie punya pemikiran yang agak sesuai dengan cita-cita dan apa yang menjadi pemikiran buku yang dibacanya. Pemikiran para tokoh yang dibaca Gie telah banyak mempengaruhi Gie. ditambah keberanian Gie mengungkapkan sesuatu yang berbeda dengan kawan-kawan aktivis yang lain.

Apalagi sebagai seorang Tionghoa, bagi saya mungkin Gie juga merasakan ada yang aneh dalam dirinya yang Tionghoa itu. Bagi saya Gie sebagai seorang “Mutant” dan itu juga yang saya rasakan karena pada umumnya orientasi seorang Tionghoa biasanya mencari pekerjaan seperti berdagang atau menjadi pengusaha dan minimal sebagai karyawan. Semuanya untuk mencari aman dan uang, tidak mengurusi hal yang macam-macam. Itulah sekelumit pandangan dari keluarga Tionghoa pada umumnya sampai sekarang. Tapi pastinya Gie berpikir secara berbeda, tidak apalah menjadi seorang “Mutant” yang berbeda dan berjuang sendiri, merasakan dan menyimpan kesulitannya yang tidak dirasakan oleh orang lain kebanyakan

Gie berasal dari keluarga yang biasa-biasa, bahkan saya pikir kehidupan dikeluarganya juga tidak terlalu istimewa. Tak bisa dipungkiri, ketokohan Gie karena dia mampu menuangkan ide-ide dari hasil kajiannya terhadap buku dengan keadaan sosial politik dalam bentuk tulisan. baik artikel, terlebih catatan harian.

Gie menjadi besar karena zamannya yang mendukung. Seperti halnya para pilosof yang dianggap pintar pada zamannya, para penemu dan ilmuwan besar ataupun para tokoh pemikir yang besar.

Soe Hok Gie adalah sosok pemuda yang mencerminkan kegigihan, kesederhanaan, dan keberanian, walaupun ia dilahirkan sebagai seorang Cina yang notabene pada zaman Orde Lama (tidak juga pada zaman Orde Baru atau setelah tumbangnya Orde Baru) bukanlah merupakan sesuatu pilihan yang mudah untuk memilih sikap hidup sepertnya, tapi dia membuktikannya. Ketidakmudahan ini dapat dilihat dari ketiadaan nama Soe Hok Gie dalam berbagai buku sejarah di sekolah-sekolah, padahal dia dianggap salah satu orang yang menggerakan perjuangan pemuda Indonesia di tahun 1966. Gie seharusnya menjadi panutan generasi muda sekarang dan yang akan datang di mana di saat ini makin banyak lagi generasi-generasi tua ataupun muda yang bagaikan monyet tua yang masih bermain dalam kandang yang sama.

Soe Hok Gie adalah sesosok panutan yang tidak akan pernah akan terulang lagi dalam sejarah kehidupan. Ia adalah karya yang mengagumkan. Saya bahkan sampai terhipnotis dengan perjuangannya yang tanpa pamrih, gigih.

Namun sayangnya, impian dan cita-cita Gie masih belum terwujud hingga saat ini. Karena zaman ini masih banyak para pemakai topeng yang berkedok atas nama agama, dan golongan, atau kelompok masyarakat tertentu. Dan masih banyak orang yang membedakan golongan, hidup berblok-blok, dan sebagainya.

Saya berharap, semoga para mahasiswa --maupun juga siswa-- sekarang mencontoh perjuangannya yang patut diacungkan empat jempol, bahkan tak terhitung lagi dengan kata-kata.

Mahasiswa sekarang kebanyakan lebih bersifat hedonisme dan berhura-hura, padahal bangsa ini juga sangat membutuhkan generasi penerus bangsa untuk diandalkan bagi masa depan. Nyatanya, kini harapan sepertinya mulai sirna! Tersapu, terkikis, dengan kebudayaan yang maju, akal dan pikiran yang berkembang, namun daya budi dan naluri bersih malah semakin menipis bahkan hilang dari peredaran. Minimal moral dulu yang diasah, dan diperbaiki. Tidak seimbangnya pikiran maju malah semakin berbuat yang jauh dari dasar nurani.

Sekiralah kita, para generasi muda, dapat melihat tokoh Gie sebagai panutan dalam membangun bangsa.

Soe Hok Gie (Bab VIII - Hubungan Antara Gie dan Pamerintahan Saatini)

“Gie hanyalah masa lalu,” itu adalah pendapat yang benar-benar salah. Bagaimana kita menyikapi pandangan kita terhadap Gie dan hubungannya dengan pemerintahan saat ini? Pada bab inilah hubungan itu akan dikupas agar tak menyisakan tanda tanya di hati kita.

Kita akan langsung melangkah pada saat dimulainya pemerintahan yang sekarang ini sudah berjalan. Situasi ekonomi dan politik pasca Pemilu 2004 telah memberikan beberapa kesimpulan yang dapat dilihat di bawah ini.

Pertama, seluruh penguasa borjuis telah gagal memberi jalan keluar bagi krisis kesejahteraan rakyat. Kegagalan kelas pengusa borjuis memberi karakter penguatan dan aktid dari tindakan tindakan politik rakyat. Kenyataan bisa dilihat dari hasil-hasil Pemilu 2004. Di mana-mana elit-elit dan partai-partai tradisional mengalami kekalahan dan kemerosotan dukungan yang signifikan. Sementara karakter aktif massa semakin menonjol dalam berbagai peristiwa politik di lokal dengan aksi massa anti korupsinya di Kampar dan Larantuka, Temanggung dan lain sebagainya, maupun di panggung nasional di mana tidak lama setelah Susilo Bambang Yudhoyono terpilih disambut dengan pergolakan massal kaum buruh menuntut kenaikan upah di berbagai kota. Angka golput hampir mencapai 30 % memberi indikasi kuat bahwa banyak rakyat tidak mau dibohongi lagi oleh kontestan pemilu yang terbukti tidak mempunyai program yang dapat memberi keyakinan jalan keluar yang diharapkan.

Kedua, dukungan rakyat yang memerbesar terhadap PKS dan Partai Demokrat serta juga kemenangan SBY dalam Pemilu Presiden menegaskan karakter dan kehendak yang kuat dari rakyat akan perubahan. Persoalannya karena ketiadaan alternatif kekuatan progresif dan revolusioner dari ajang pemilu membuat dukungan rakyat sebagian mengalir pada partai reformis borjuis kecil seperti PKS dan partai manipulator baru yaitu Partai Demokrat. Sekalipun demikian dengan karakter kesadaran yang semakin maju ini dukungan rakyat tersebut bukan berarti dikendalikan oleh PKS, Partai Demokrat, dan SBY.

Ketiga, bahwa kelas penguasa borjuis Indonesia tidak memiliki keberanian melawan dan melikuidasi kepentingan-kepentingan negara-negara dunia pertama yang menghambat potensi kemajuan tenaga produktif dan kemampuan industrialisasi nasional dalam negeri, maka krisis kesejahteraan rakyat sudah pasti gagal diatasi. Selama perekonomian nasional masih dibelenggu oleh kebijakan-kebijakan yang menghambat pada kepentingan imperialis neoliberal dan secara politik kekuatan masih didominasi oleh kaki tangannya, maka kepentingan mayoritas rakyat kaum buruh, tani, rakyat miskin kota, dan pemuda akan terus diselewengkan. Kenaikan harga BBM telah menjadi bukti nyata bahwa SBY – Kalla secara tidak langsung telah terkena pengaruh dari kaki tangan kaum imperialis neoliberal yang sudah barang tentu akan membawa kerugian terhadap negara. Namun aksi-aksi protes saja belumlah cukup. Sekali lagi rakyat membutuhkan kekuatan dan pada akhirnya kekuasaan politik alternatif yang sanggup melawan musuh-musuh pokok rakyat.

Persatuan dari unsur-unsur, individu, organisasi yang progresif revolusioner dengan unsur-unsur, individu, agamawan, kaum intelektual, kaum demokrat, pemuda dan mahasiswa yang pro rakyat adalah alternatif politik satu-satunya yang dibutuhkan dan merupakan program perjuangan rakyat yang bersifat mendesak. Kekuatan alternatif inilah yang sudah pasti didukung oleh rakyat, dan akan mampu menyiapkan langkah-langkah politik bagi kepentingan rakyat untuk membangung pemerintahan bersih, demokrasi, merdeka, modern dan internasionalis.

Apakah hubungan argumen di atas dengan sosok Gie? Jika seorang Gie berani melawan pemerintahan boneka imperialis Amerika Serikat pada masa Orde Baru, mengapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak berani?

Soe Hok Gie (Bab VII - Resensi Buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran)

Resensi Buku Soe Hok Gie oleh Arief Budiman. Ini adalah bagian pembuka buku Catatan Seorang Demonstran yang diambil dari buku harian Gie.


RESENSI BUKU SOE HOK GIE

Arief Budiman

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju - mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si ***, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.

Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.


Arief Budiman (Soe Hok Djin)
(seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993)

Soe Hok Gie (Bab VI - Kenangan Kepada Seorang Demonstran)

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Gie memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ....”

Gie yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Gie yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Gie di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan kakaknya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata, “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, Mama tidak mengerti”.

Arief pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu.

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok Gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Gie sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok Gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Gie, dalam salah satu surat terakhirnya, Gie menulis, ... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Gie, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Gie pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Gie sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Gie mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Gie menulis: ... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Gie ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Gie akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.


MANDALAWANGI – PANGRANGO

Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.

Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.

Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
“Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
“Terimalah dan hadapilah.”

Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu.
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie


Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, namun di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan”.


Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Wednesday, November 01, 2006

Soe Hok Gie (Bab V - Kisah Batu dan Cemara)

Ini adalah kisah yang coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut. Kisah ini bercerita tentang keadaan menjelang ajal Soe Hok Gie di Puncak Mahameru.

“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, pimpinan pendakian Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula-gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin!

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Soe Hok Gie (Bab IV - In Memoriam: Soe Hok Gie)

In Memoriam: Soe Hok Gie adalah tulisan yang ditulis oleh Ben Anderson, teman dekat Gie. Tulisan ini ditulis dalam bahasa Inggris, namun saya tetap menyertakannya sebagai salah satu bentuk pembuktian fakta tentang Gie. Tulisan ini aslinya diketik dengan mesin tik, dan kemudian akhirnya saya berhasil mendapatkan salinannya berupa naskah digital. Tulisan ini saya biarkan apa adanya tanpa melakukan perubahan apapaun terhadap isinya.


IN MEMORIAM: SOE HOK-GIE

Ben Anderson


He was a young man, just 27, without position, and of Chinese descent. Yet, in all Indonesia, he was the first to write publicly about the thousands of political prisoners held without trial in prisons and internment camps, and about the despair of their wives and the destiny of their ostracized children. His elders had proclaimed often enough their commitment to universal humanist values—but none but he, and a few others of his generation, had the courage to defend these values at home.
He had contributed more than most to the student campaign which helped to overthrow the Sukarno regime. Yet the dispossessed supporters of that regime would read his articles in the Djakarta press and say, “Dia orang baik. He wrote his skr?ps? on the Madiun Affair in 1948, and trenchantly criticized the Communist leadership of that period. Yet, in the simple dedication opposite the title page, he wrote, “My sympathy is for all those who have sacrificed everything for the people of Indonesia, whether they stood on the left or on the right.” Others attacked the corruption and hypocrisy rampant in Indonesia, but only he was willing to take the risks of naming names.
For me, and I think for many others, he was much more than a trusted and loyal friend, and a courageous and compassionate man. He was in away a symbol of all our hopes. And those hopes were never stronger than when one was with him, listening to his rapid, staccato confidences, watching the wrinkles on his forehead which seemed so out of place under his crew-cut hair, and then following him with the eye as he would jump up to go, striding off with his unmistakable springy walk.
Although the news of his death on the top of the Semeru volcano, last December 16, seemed completely unacceptable, in a strange sense it was not out of keeping with his life. It was impossible to imagine him middle-aged, settled down, reporting to work in an office, holidaying with wife and children. Perhaps, in a way, he felt it himself. He wrote to me last summer: "Since graduating, I’m beginning to feel gel?sah. I’m teaching at the Fakultas Sastra. Mainly routine, boring duties. I feel a growing gap between myself and my old world, a world I love very much--the student world. Emotionally, ?tm still a student, though I have a teacherts status. I’m finding it difficult to adapt myself emotionally to my new condition. If I have no work to do, I find I cantt stay at home. . . . I don’t know whether this is just a stage, or whether it’s a sign that I’ll always be gelisah, and unable to live in peace."
Living in peace . . . I believe he thought of it as giving in, abandoning hope and accepting the exhausted routine and frightened corruption he saw around him. One could sense this in the words he used so often and loved so well—berontak, nekad, berani, djudjur, and bersih. It was because of this that he insisted on the moral role of students in Indonesian politics, and attached so much importance to the solidarity of the campus and the streets. It was because of this too that he was so bitingly scornful of those student leaders whom he felt had decided to “live in peace” by accepting positions in the appointed Parliament and the attendant perquisites.
He used to refer to himself, with a smile, as an “anarchist.” Evidently, a number of groups with which he had been associated had accused him of “anarchism” because he refused to play the safe, and temporizing game of tactical advantage, both under Sukarno and Suharto. Actually, I think he felt complimented. It was perhaps as an “anarchist” that he wrote to me: “I write in part simply to relieve my sense of nausea at our condition. Sometimes, though, I feel as if it's all useless. I feel that all there is in my articles is a few firecrackers. And Ifd like to fill them with bombs.”
He was always uncomfortable when associated with authority, instinctively seeing power as the last enemy of morality. Some of his elders ascribed his attitude to adolescent rebelliousness. But I am sure that it was born from the experience of Indonesian life as he knew it. More than most of his generation, he was outraged by the ruthless exploitation of the poor and defenseless in his society: the arbitrary, illegal taxes, the land-grabbing, the extortionate usury, the casual armed brutality and the “insolence of office.” He had seen enough of “authority” to be determined, if he could, to remain apart from it, whatever it was. It was typical, perhaps, he was fond of the now-banned, but legendary song Darah Rakjat, created by the leftist youth organization Pesindo, in the Revolution he had been to young to experience.

Darah rakjat masih djalan
Menderita sakit dan miskin
Pada datangnja pembalasan
Kita jang mendjadi hakim

Hajo, hajo bergerak sekarang
Kemerdekaan telah datang
Merahlah pandji-pandji kita
Merah warna darah rakjat

Kita bersumpah pada rakjat
Kemiskinan pasti hilang
Kaum kerdja akan memerintah
Dunia baru tentu datang

But he saw himself not only as an “anarchist” but as a ”modernizer.” I remember very well, when we first got to know one another, that he was surprised, almost incredulous, that I was anxious to learn as much as I could about traditional Javanese values and civilization. I think he saw it as typical Western “exoticism”—butterfly-hunting in the human jungle. A true child of Djakarta, he had little but contempt for an old culture, painfully disintegrating under the colonial rulers and their successors. But if he urgently wanted "”modernization,” it vjms because for him it meant, above all, liberation: liberation from hypocritical conventions and the degradations of accepted servitude. Being modern meant being able to stand up to those in power and see them for what they really are.
On my side, I was rather surprised to discover that he was an enthusiastic mountain-climber. He had then already climbed many of the legendary mountains of Old Java: Pangrango, Gede, Slamet and Merapi. At first I put it down to a compulsion to “keep fit,” perhaps in protest at the kemalasan he sometimes complained of among his fellow-students. Then one day I asked him directly. He said it was partly to lat?h diri, but also because it was only on the top of a mountain that he really felt bersih. Perhaps he was within the tradition after all, in his own way.

Soe Hok Gie (Bab III - Kutipan Soe Hok Gie)

Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari buku harian Gie. Mengapa saya harus memasukkan kutipan-kutipan ini? Alasan utamanya adalah karena dari kutipan-kutipan inilah kita dapat benar-benar menyelami pola pikir Gie yang benar-benar revolusioner kala itu.

“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.”

“Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa’. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.”

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.”

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”

“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?”

“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.”

“Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.”

“Bagi saya kebenaran biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”

“Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”

“To be a human is to be destroyed.”

“Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.”

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

“I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist. “

“Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.”

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.”

“Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.”

“Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Soe Hok Gie (Bab II - Riwayat Hidup Singkat)

Sosok Soe Hok Gie sendiri dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu Yi dalam bahasa Mandarin (dialek Pinyin). Anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, ini sejak kecil amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana itu tinggal di bilangan Kebon Jeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Saudara laki-laki satu-satunya Soe Hok Djien yang kini kita kenal sebagai Arief Budiman, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal sebagai seorang akademisi, sosiolog, pengamat politik dan ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia. Sejak SMP, ia menulis buku catatan harian, termasuk surat-menyurat dengan kawan dekatnya.

Semakin besar, ia semakin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam. Di dalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan dalam Catatan seorang Demonstran, ia menulis: "Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau." Begitu tulis anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi mobil. Tulisnya lagi: “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”

Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya ia menulis: "Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang."

Gie melewatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Tahun 1962-1969 ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan ilmu sejarah. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru. Ketika keadaan perekonomian di tanah air semakin tidak terkendali sebagai akibat adanya depresi perekonomian pada sekitar dekade enam puluhan yang mengakibatkan kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti pemotongan nilai mata uang (Sanering) yang menurut Gie hal ini akan semakin mempersulit kehidupan rakyat Indonesia .Ia kemudian masuk organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS). Sementara keadaan ekonomi makin kacau. Gie resah. Dia mencatat: "Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak." Maka lahirlah sang demonstran.

Mulai saat itulah hari-hari Gie diisi dengan berbagai aktivitas di dalam dunia pergerakan seperti rapat-rapat, demonstrasi, aksi pasang memasang ribuan selebaran propaganda, sampai dengan ancaman teror serta cacian dari penguasa karena aktivitas pergerakannya menjadi suatu hal yang lumrah bagi Gie, “Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari bahwa mereka adalah the happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya. Dan kepada rakyat aku ingin tunjukkan, bahwa mereka dapat mengharapkan perbaikan-perbaikan dari keadaan dengan menyatukan diri di bawah pimpinan patriot-patriot universitas,” begitu tulisnya. Tahun 1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, Gie kemudian menggabungkan diri di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ia termasuk di barisan paling depan.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Seperti yang telah diceritakan diatas, Gie adalah juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-militer pada tahun 1966. Gie sendiri dalam buku Catatan Seorang Demonstran, menulis soal aktivitas gerakannya tersebut: "Malam itu aku tidur di Fakultas Psikologi. Aku lelah sekali. Lusa Lebaran dan tahun yang lama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup." Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia. Batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran. Tertulis di akhir kalimatnya, Jakarta, 25 Januari 1966.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442 m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya: “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.”

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Soe Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Beberapa tulisannya benar-benar tajam dan menohok pemerintah kala itu, sehingga seringkali ia mendapat ancaman dari berbagai pihak. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang”, yang pernah dimuat di harian Kompas, 16 Juli 1969

Dalam tulisannya, aktivis gerakan mahasiswa 1966 ini menyoroti kinerja kabinet di bawah Presiden Soeharto. Gie melihat adanya kesenjangan antara persepsi masyarakat luas dengan kinerja pemerintahan Soeharto saat itu.

Menlu Adam Malik yang bolak-balik ke luar negeri dipersepsikan masyarakat sebagai usaha untuk mendapat utang-utang baru dari negara donor. “Nama Adam Malik dapat diganti dengan nama Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Presiden Soeharto dan seterusnya. Seolah-olah seluruh usaha diplomasi kita adalah diplomasi cari utang untuk kelangsungan hidup repulik kita yang sudah 24 tahun usianya,” tulis Gie.

Gie --saat itu-- menganggap pemerintah Soeharto yang baru dibentuk merupakan antitesis dari pemerintah Soekarno yang korup dan tidak berpijak pada realitas. Pemerintah Soekarno dan pemerintah Soeharto memiliki cita-cita yang sama besarnya dalam menyejahterakan masyarakat. Namun caranya berbeda. Dan di sinilah subjektivitas Hok Gie muncul. “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya,” katanya menyinggung proyek Monumen Nasional yang dibangun di jaman Presiden Soekarno.

Adik Arief Budiman ini juga melihat mispersepsi masyarakat terhadap kinerja kabinet muncul karena tidak adanya partisipasi sosial dan mobilisasi sosial yang dilakukan pemerintah. “Usaha Adam Malik dan kawan-kawan mencari kredit baru, menunda pembayaran utang-utang adalah bagian permulaan daripada usaha besar. Tetapi apakah pemuda-pemuda lulusan SMP di Wonosobo menyadari soal ini?”

Pemerintah yang pragmatis dan kegagalan komunikasi yang dimengerti masyarakat umum pada akhirnya gagal menimbulkan gairah dan sokongan kerja masyarakat. Masyarakat dijejali istilah rule of law, human rights, tertib hukum dari Ketua Mahkamah Agung, Jaksa Agung dan bahkan Presiden Soeharto. Namun di lain pihak, setiap hari mereka mendengar oknum militer yang menampar rakyat, anak-anak penggede yang ngebut serta penyelundupan yang dilindungi.

Gie pernah berkata pada Arief, kakaknya, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Gie menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia, antara lain, “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu Gie sering gelisah dan berkata, “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibunya dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, mama tidak mengerti”.

Kemudian, Gie juga pernah jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orang tuanya tidak setuju -- mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orang tua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada Arief, Gie berkata, “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si ***, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada Arief. Arief menuturkan, “Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.”

Gie, berdasarkan kedudukannya dapat disetarakan dengan tentara yang kembali dari medan perang. Ia dipuji dan dielu-elukan rakyat, namun ketika sang tentara hendak mencari pasangan hidup, tentu orang tua sang wanita tak akan rela menyerahkan anak gadisnya untuk dinikahi sang tentara. Kenapa begitu? Biarpun yang ia lakukan itu benar dan berjasa besar, namun tindakannya terlaku berbahaya dan beresiko.

“…Kelompok yang berjaga-jaga mulai keluar dengan berpakaian serba hitam dan bersenjatakan pedang, pisau, pentungan dan bahkan senjata api. Rumah-rumah penduduk yang diduga sebagai anggota PKI dibakar sebagai bagian pemanasan (warming up) bagi dilancarkannya tindakan-tindakan yang lebih kejam. Kemudian pembantaian pun terjadi dimana-mana…” Tulis Gie dalam buku hariannya.

Gie adalah salah satu tokoh yang sangat menyoroti tragedi G30/S/PKI, tragedy yang sangat memilukan dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia. Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang sungguh biadab dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan.

Cerita pembantaian massa PKI Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali. Cribb dan Gie mengawali catatannya untuk menggambarakan bagaimana brutal dan sadisnya pembantaian PKI di Bali.

Komandan RPKAD, Sarwo Edhi, yang pasukannya tiba pada akhir Desember 1965, dilaporkan pernah berkata, “Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai orang-orang komunis. Di Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan bahwa mereka tidak bertindak terlalu jauh.”

Situasi di Bali dalam catatan Soe Hok Gie memang agak terlamabat menerima komando untuk melakukan pembantaian. Elite-elite politik di Bali lama mengamati pertarungan yang terjadi di Jakarta dan menunggu siapa yang keluar sebagai pemenang. Banyak para keluarga di Bali yang kehilangan anggota keluarganya dalam Tragedi 65 melakukan ritual ini untuk menutup rapat tragedi menyedihkan tersebut.

Ada sebuah catatan kecil dari pemikiran Soe Hok Gie tentang konsep kebudayaan yang ada di buku hariannya ketika ia sedang berdiskusi dengan Ong Hok Ham yang dicatatnya pada tanggal 31 Desember 1962. Di sana dia menulis, ”Lihat di Irian Barat, telanjang, bercawat, tidak ada kebudayaan.”

Nampaknya waktu itu Soe Hok Gie masih terpengaruh ide yang berpendapat bahwa hal-hal yang masih primitif itu adalah hal-hal yang belum mengenal atau tersentuh oleh kebudayaan. Konsep yang sudah ketinggalan jaman pada waktu itu sebenarnya. Semoga saja pendapatnya ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676 meter. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Dalam suasana yang seperti inilah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut. Gie tewas bersama rekannya, Idhan Lubis. Tanggal 16 Desember 1969, Soe Hok Gie yang berencana merayakan ulang tahunnya di puncak Mahameru menghembuskan nafasnya yang terakhir karena terjebak gas beracun.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Soe Hok Gie (Bab I - Pendahuluan)

Soe Hok Gie adalah merupakan sebuah fenomena besar di dalam sejarah dunia gerakan kepemudaan di Indonesia terutama gerakan mahasiswa, di mana Soe Hok Gie adalah seorang tokoh yang mewakili gerakan pemuda pasca angkatan 45 yang biasa disebut angkatan 66. Tak hanya itu, tetapi ada suatu fenomena menarik dan kontroversial dari diri Gie, yaitu sebenarnya bagaimana kondisi pergulatan pemikiran dan perjuangan dari Gie sendiri, apakah ia seorang pejuang yang mempunyai idealisme untuk memperjuangkan tegaknya keadilan dan kebenaran bagi rakyat yang tertindas oleh kediktatoran dan kesewenang-wenangan penguasa di bumi pertiwi ini? Ataukah dengan idealismenya yang keras dan berkobar-kobar tersebut justru malah membuat Gie terjebak di dalam irama konstelasi politik yang telah diformat sedemikian rapi oleh suatu kolaborasi internasional yang kemudian meruntuhkan kekuasaan Orde Lama untuk kemudian digantikan dengan kekuasaan Orde Baru yang dilatar belakangi oleh kekuatan negara-negara pemodal? Hal tersebut sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri besar, mengingat Gie sendiri adalah salah satu tokoh yang menggagas mengenai adanya kemanunggalan militer dengan rakyat melalui konsep DwiFungsinya yang kemudian diselewengkan oleh penguasa Orde Baru untuk sebuah alat legitimasi kekuasaan yang sangat ampuh, bahkan Gie diketahui secara terbuka mendukung petinggi-petinggi militer saat itu untuk duduk di tampuk kekuasaan Orde Baru. Tetapi apakah Gie sama sekali tidak pernah menyadari bahwa ada suatu skenario besar yang dibuat oleh militer dan negara-negara pemodal untuk memperlancar masuknya ribuan investasi modal asing di Indonesia yang pada akhirnya justru akan menimbulkan suatu sistem penindasan yang amat sangat luar biasa bagi rakyat Indonesia, yang tentu hal ini akan sangat bertentangan dengan keyakinan Gie sendiri yang sangat anti terhadap adanya penindasan terhadap umat manusia terutama golongan lemah. Sesungguhnya Gie tak hanya kritis kepada Soekarno, namun ia juga kritis terhadap Soeharto, meskipun sikap kritisnya terhadap mantan presiden kedua RI itu timbul belakangan.

Gie sendiri pernah mengutarakan mengenai permasalahan ini kepada kawan akrabnya, Ben Anderson, dimana ia berkata bahwa ia telah salah menaruh kepercayaan kepada Militer yang telah berubah menjadi sosok yang sangat fasis, Gie juga mengatakan pada Ben Anderson bahwa telah ada dehumanisasi besar-besaran di pulau Jawa dan Bali sebagai dampak dari perubahan konstelasi politik pasca Orde Baru yang tentu saja membuat ia resah akan adanya penyelewengan-penyelewengan kepercayaan yang ia berikan kepada orde baru. Tetapi sebelum kita lebih jauh merefleksikan hal tersebut alangkah lebih baiknya kita mengenali terlebih dahulu siapa sang demonstran ini yang mungkin saja masih terdengar asing bagi generasi muda saat ini.

Sepenggal Kisah Kalangan Bawah

Bunga Bangsa Di Hari Tua
Oleh: Gunawan Rudy


Terik matahari tak henti-hentinya menambah suasana panas pada siang itu. Peluh mengucur deras dari keningku. Aku tak tahu harus berjalan berapa jauh lagi. Kendaraan-kendaraan bermotor terus hilir mudik di jalanan, dengan suara bisingnya yang memekakkan telinga. Aku yang hanya mengenakan sandal jepit lapuk ini berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan. Baju dan celanaku sudah tua dan kumal seakan membuat orang-orang menjauhiku.

Hah, nafasku sudah terengah-engah, aku tak ingat sudah berapa lama aku berjalan. Tadi pagi aku meninggalkan rumah dengan harapan bisa mendapatkan sebuah pekerjaan. Pintu demi pintu aku ketuk, orang demi orang aku tanya, namun tak satu pekerjaan pun aku dapat. Sempat timbul rasa penyesalan di hatiku, mengapa dulu aku tak melanjutkan sekolahku sampai tamat SMU. Aku terlalu muluk dalam mengejar mimpiku untuk menjadi atlet sampai melupakan pendidikanku.

Dulu aku putus sekolah karena ingin berkonsentrasi dalam bidang olahraga. Aku adalah atlet tinju yang terkenal kala itu. Berbagai kejuaraan olahraga nasional aku ikuti. Medali emas dari PON pun aku raih. Yang membuatku semakin bangga adalah ketika mewakili Indonesia ke ajang-ajang internasional. Aku sempat tampil di olimpiade dan juga mencapai puncak karirku, yaitu berhasil sampai ke peringkat 3 IBF. Sungguh kenangan yang indah.

Tiba-tiba suara klakson sebuah mobil menyadarkanku dari lamunanku. Kenangan masa lalu yang indah kini hanya tinggal kenangan. Tubuhku yang kekar dan kuat kini hanya tinggal tubuh kurus dan lemah. Aku yang dulu gagah sekarang untuk berjalan pun aku harus tertatih seakan menahan beban di kakiku. Aku sadar aku telah melewati masa-masa di mana aku masih aktif dengan sia-sia. Di mana aku seharusnya mengenyam bangku pendidikan aku isi dengan latihan yang berat, yang penuh keringat dan peluh.

Aku sampai di perempatan jalan yang ramai dilalui oleh kendaraan bermotor. Sekejap pikiranku kosong. Aku tak tahu lagi bagaimana menghidupi istri dan anak-anakku di rumah. Uang hasil penjualan medali-medali dan piala yang kudapatkan sudah habis 3 hari yang lalu. Meskipun aku tak tega menjualnya, namun aku tak punya pilihan lain. Demi anak istriku aku rela melakukan apa saja. Sempat terpikir dalam otakku untuk mengambil polis asuransi lalu aku bisa mati demi anak istriku. Tapi ah, itu hanya akan menambah berat beban mereka. Kehadiranku lah yang mereka butuhkan.

Aku bingung. Aku putuskan saja untuk duduk di halte bus yang berada tak jauh dari situ. Halte itu tampak lengang dan sepi. Kulihat ada selembar koran di situ. Aku mengambilnya lalu duduk. Mataku sudah terlalu tua untuk membacanya, namun aku tahu apa yang tertulis di situ, yaitu kasus pembalakan liar yang terjadi di pulau Kalimantan. Sungguh aneh dalam pikiranku, jika pemerintah dapat memberantas kasus itu sampai ke akar-akarnya, pasti negara tidak akan merugi ratusan milyar seperti sekarang ini.

Seketika aku terkejut saat membaca berita tertangkapnya seorang mantan petinju juara IBF di sebuah diskotik karena kedapatan menjual narkoba. Dia bekerja sebagai penjaga keamanan di diskotik tersebut. Aku kecewa dengannya. Ia yang mantan atlet seharusnya tahu bahaya narkoba, dan kenapa dia harus menjerumuskan orang lain ke dunia hitam itu. Namun yang paling membuat aku kecewa adalah pemerintah. Seharusnya kejadian seperti ini tidak terjadi jika saja pemerintah mau melihat nasib kami, para mantan atlet. Kami membaktikan segenap jiwa raga kami untuk bangsa. Kami mengorbankan masa muda dan pendidikan kami hanya demi bangsa. Namun apa yang kami dapatkan setelah kami melewati masa aktif kami? Tidak ada. Dulu orang-orang selalu mengingat nama kami, sekarang sudah lenyap di ingatan mereka bagai istana pasir yang disapu ombak.

Aku terlalu lelah. Tak sadar aku ketika mataku sudah mulai meredup. Aku tertidur lelap. Di dalam tidurku aku bermimpi. Di situ aku serasa kembali ke masa mudaku, aku yang berusia 20-an tahun. Sorak sorai penonton bergemuruh ketika aku beraksi. Pukulan demi pukulan aku lancarkan, mulai dari jab, straight, hook, sampai pukulan andalanku, uppercut. Kulihat lawanku roboh ke kanvas. Manajer dan pelatihku langsung menghambur naik ke arena. Sabuk emas melekat di pinggangku, medali pun tergantung di leherku. Aku bangga, dan semakin bangga ketika kulihat kedua orang tuaku turut tersenyum bahagia di bangku penonton. karena dukungan merekalah aku bisa sampai begini. Tiba-tiba sekeliling menjadi gelap.

Aku terbangun dari tidurku, tersadar dari mimpi masa muda yang kini telah berlalu. Kini matahari sudah tak nampak lagi di langit, digantikan oleh bulan purnama dan bintang-bintang. Aku tertidur terlalu lama, mungkin karena aku sudah sangat lelah. Kucoba untuk mengingat mimpiku tadi. Aku teringat akan kedua orang tuaku. Mereka pasti sedih dan kecewa melihat keadaanku yang seperti sekarang. Mungkin gara-gara aku jugalah mereka meninggal. Mereka memaksakan diri untuk menontonku berlaga di luar negeri. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh di laut dan seluruh penumpangnya tewas. Peristiwa itulah yang membuat karirku berantakan. Dan kini semua itu hanya tinggal kenangan.

Aku sadar kalau aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Pasti di rumah anak istriku menungguku dengan penuh harapan. Di rumah sudah tak ada lagi yang bisa dimakan. Aku tak tahu harus berkata apa kepada mereka. Aku tak sanggup untuk pulang dalam keadaan yang seperti ini. Tak sadar aku ketika air mataku mulai keluar. Aku hanya bisa menangis maratap nasib.

Perlahan aku mulai berdiri. Tubuhku lelah, lututku seakan tak sanggup menahan berat tubuhku. Aku berusaha berjalan pulang. dengan langkah lunglai aku menapak jalan demi jalan. Jalanan saat itu sepi senyap, hanya ada beberapa mobil yang terlihat di jalan. Ketika aku hendak menyeberang jalan, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahku dan hampir menabrakku. Untunglah refleksku tidak pudar, aku melompat ke trotoar. Kontan saja akibat aksi itu kakiku terluka.

Mobil itu kemudian berhenti. Aku bisa menduga kalau pemiliknya pasti orang kaya karena mobil itu adalah mobil yang lumayan mewah. Pintu mobil itu terbuka dan kulihat seorang pria separuh baya keluar. Ia menatapku tanpa suara. Wajah itu sangat familiar bagiku. Kontan saja aku terkejut ketika ia memanggil namaku. Aku teringat sekarang, ia adalah sahabatku semasa sekolah dulu. kami berasal dari satu desa dan merupakan teman sepermainan sejak kecil. ia segera menghambur ke arahku dan kami berpelukan. Ia menangis haru, lalu meminta maaf kepadaku dan mengajakku untuk ke rumahnya, sekedar mengenang kembali masa lalu. Namun aku menolaknya. Tak mungkin diriku yang dekil dan miskin ini datang ke rumahnya yang mewah dan megah.

Ia nampak kecewa, tapi ia kemudian menawari aku untuk makan malam di rumah makan. Aku hendak menolak ajakannya, namun karena aku belum makan sejak tadi pagi, perutku serasa hendak menelan segala yang ada. Setelah beberapa kali ia membujukku, aku akhirnya menerima tawarannya.

Aku masuk ke mobilnya dan segera berangkat. Ketika di perjalanan kulihat beberapa warung tegal di pinggir jalan. Aku pikir pasti merepotkannya jika makan di rumah makan, belum lagi dengan penampilanku yang kumuh ini, tak ada satu rumah makan pun yang maun menerimaku. Jadi aku sarankan untuk makan di warung tegal saja. Ia menerima saranku dan kami berhenti di sebuah warung tegal yang tampak ramai oleh pengunjung. Selama menunggu pesanan, kami saling bercerita satu sama lain tentang kehidupan kami. Kini sahabatku telah menjadi seorang anggota dewan rakyat, ia adalah seorang wakil rakyat. Aku hanya bisa menceritakan apa adanya kehidupanku yang sekarang ini. Kontan saja kulihat air matanya mengalir ketika mendengar ceritaku. Tak kusangka seorang wakil rakyat bisa begitu terharunya. Ia berjanji akan menyalurkan aspirasi dan unek-unekku. Ia sempat menceritakan kalau ia pernah mendapat pertanda beberapa hari yang lalu. Ketika sholat malam di musholla, ia bertemu dengan orang yang seharusnya sudah meninggal. dan itu semakin mempertebal iman dan rasa tanggung jawabnya kepada negara.

Ketika menyantap makanan pun kami terus bercerita. Aku teringat akan anak istriku di rumah. Tanpa aku minta ia langsung membungkuskan makanan untuk keluargaku di rumah. Tak kusangka, kami sudah lama tak bertemu, tapi ia begitu baik kepadaku. Yang membuatku semakin terharu adalah ketika ia menawarkan pekerjaan sebagai instuktur olahraga di sebuah sekolah. Aku mengangis di hadapannya, tangisan bahagia. Tak lupa aku mengucapkan rasa syukur dan terima kasihku kepada Sang Khalik. Aku yang dulu pernah mengharumkan nama bangsa, terlupakan, lalu hidup merana dalam kesusahan, kini kembali mendapatkan cahaya kehidupan.


Bunga Bangsa Di Hari Tua -- Selesai

Saturday, October 14, 2006

Mata Rantai Dunia Perforuman Indonesia

Di sini, akan dibahas sebuah fenomena besar yang terjadi dalam dunia perforuman Indonesia setahun belakangan ini. Sebuah fenomena yang memang terkesan luar biasa, yang mempunyai efek yang luar biasa pula.

Setahun ini, wabah Foruming menjamur di Indonesia, namun yang dibahas adalah wabah pembuatan Forum. Di mana-mana banyak Forum berdiri, dengan mengusung tema-tema yang beragam. Ada Forum yang sukses, namun ada pula yang mati, sunyi, senyap.

Kalau dulu yang dikenal hanya Forum-Forum besar seperti Kafegaul, FI, VGI, dan lain-lain, maka sekarang banyak bermunculan Forum-Forum kecil. Entah setan mana yang merasuk, kebanyakan anggota Forum mulai tertarik untuk membuat Forum sendiri, terlebih lagi dengan hadirnya InvisionFree sebagai hosting yang mengusung IPB sebagai engine forum-nya. Beberapa bulan belakangan, satu per satu Forum berdiri, dan anggota mulai mengalir dari Forum-Forum besar.

Kebanyakan anggota yang datang tertarik dengan promosi sang Admin, namun ada pula yang memang memiliki unsur kekerabatan dengan Admin, misalnya teman atau keluarga. Sialnya, perkembangan anggota Forum-Forum kecil tersebut kalah drastis dari Forum-Forum besar. Apa yang menyebabkannya terjadinya hal tersebut?

Yang pertama adalah itu merupakan Forum independen yang berdiri sendiri, tanpa mempunyai Website utama. Orang yang membutuhkan informasi tentu akan merasa malas jika hanya terdapat Forum tanpa Website. Forum yang independen biasanya hanya mempunyai anggota-anggota yang memang aktif ber-Foruming saja.

Faktor kedua adalah Forum tersebut masih memakai hosting gratisan, misalnya preboards, InvisionFree, Forumer, dan lain-lain. Yang sudah barang tentu URL-nya sangat panjang dan malas diingat, kecuali jika menyimpannya dalam cookies. Agar menarik pengunjung, sebuah Forum mungkin harus mempunyai domain berbayar, maka orang akan menganggap bahwa prospek Forum tersebut ke depannya akan bagus. Akhir-akhir ini muncul layanan redirect URL seperti [dot]tk, [dot]co[dot]nr, dan lainnya. Ya, itu memang bagus dan membuat URL Forum agar mudah diingat. Hanya saja itu masih berupa layanan gratis. Jarang ada Forum yang memakai hosting gratisan bisa bertahan lama, mungkin hanya ada beberapa saja, misalnya EinArc.

Faktor ketiga adalah kejemuan. Ini yang paling berbahaya, orang sudah jemu dan bosan akan hadirnya banyak Forum. Forum A lah, Forum B lah, blablabla... Berpikir hanya untuk aktif di 1 atau 2 Forum memang pilihan yang tepat. Memang hadirnya Forum baru akan menciptakan suasana baru, namun juga bagai pedang bermata dua, akan menimbulkan kebingungan. Orang bingung untuk memilih Forum yang mana, dan hasilnya mayoritasnya memilih Forum besar, sedangkan Forum kecil ditinggalkan. Ya, berkaitan dengan kedua faktor di atas.

Ada kalanya seorang Admin merasa bahwa Forum-nya sepi, maka ia akan 'melarikan diri' dengan membuat Forum lain. Jika sepi, ia akan membuat lagi, dan lagi. Yang dirugikan adalah anggota. Mereka sudah bergabung, berkumpul dalam sebuah komunitas, tiba-tiba saja Admin-nya kabur dan membuat Forum lain, sehingga terbengkalai lah Forum tersebut. Seorang Admin seharusnya tidak boleh merasa putus asa, dan teruslah berusaha untuk Forum-nya, meskipun sepi pengunjung. Buatlah sesuatu yang unik, dan mungkin fenomenal untuk membuat orang tertarik bergabung, bukan dengan membuat Forum baru lagi. Itu justru akan membuat bingung orang. Yah, aku berani bilang bahwa itu tipe Admin yang tidak konsisten dan tak memiliki rasa tanggung jawab, atau mungkin bisa dikategorikan subjektif.

Dalam kasus di atas, jika Admin membuat beberapa Forum, namun ia hadir dan tidak melarikan diri ke Forum lain, itu wajar saja. Namun konsekuensi yang harus ia terima adalah ia harus bekerja beberapa kali lipat lebih banyak ketimbang sebelumnya. Dan harus seimbang antara Forum-Forum yang ia miliki, tidak condong ke satu Forum saja.

Aku akui, kalau aku juga pernah membuat beberapa Forum, kemudian aku menyerahkan jabatan Admin ke orang lain, kemudian aku seperti terkesan melarikan diri. Ya, itu aku yang dulu, yang masih belum merenungi arti tanggung jawab seorang Admin. Aku dulu melalaikan tanggung jawab, bertindak seenaknya dengan menyerahkan jabatan Admin. Kini aku sadar bahwa aku harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan. Maka dari itu aku akan berusaha sebaik-baiknya mengatur 2 Forum yang sekarang aku tangani. Dan aku juga sudah mempunyai rencana ke depan untuk kedua Forum tersebut, yah, dengan membuat Website dan membeli Domain nantinya.

Kita kembali lagi ke permasalan yang sering melanda Forum-Forum kecil. Sebuah Forum kecil, awalnya ketika baru berdiri akan sangat ramai, jumlah posting per hari terus meningkat drastis. Namun efek sesungguhnya baru terasa beberapa waktu kemudian, Forum menjadi sepi. Kenapa sepi? lagi-lagi karena fenomena banyaknya Forum, yaitu munculnya Forum baru. Para anggota Forum tersebut yang dulunya rajin lama-kelamaan menjadi kurang aktif, dan mulai berpindah ke Forum baru. Dan begitulah seterusnya mata rantai perforuman yang terjadi.

Bagaimana mempertahankan Forum kita agar tidak sepi? Seorang Admin haruslah kreatif, rajin, bertanggung jawab, berpikir jauh ke depan, serta harus berkharisma dan memiliki jiwa kepemimpinan. Tanpa itu semua, mungkin Forum tak akan bertahan lama, lalu akan sepi. Admin haruslah membuat Forum-nya menjadi semenarik mungkin, agar banyak yang datang, serta anggota menjadi betah. Admin juga harus sering hadir di Forum, mungkin perlu setiap hari agar dapat mengawasi Forum, serta membuat para anggota sadar bahwa ia adalah Admin yang konsekuen akan kewajiban. Walaupun tak hadir setiap hari, ya harus rutin lah mengecek keadaan Forum. Jiwa kepemimpinan dan kharisma juga penting, ditambah dengan ketegasan. Seorang Admin yang kaku, terlihat loyo, lemah, tidak tegas, dan sebagainya, malah akan membuat para anggota tak betah berada di Forum-nya. Apalagi jika Admin sendiri malah melanggar peraturan, misalnya sering melakukan OOT, juga memakai avatar dan signature yang melebihi batas. Padahal ia sendiri yang membuat peraturan, namun tidak ia taati. Admin macam apa itu?

Agar menarik pengunjung, Admin mungkin harus mendaftarkan Forum-nya di Search Engine. Pemilihan tema juga penting agar Forum kita dapat bertahan lama. Kita lihat-lihat dahulu apakah sudah ada Forum lain yang mengangkat tema serupa, jika belum, maka segeralah buat Forum, dengan perencanaan matang tentunya. Jika sudah, terserah mau ambil resiko agar bersaing atau tidak. Memilih tema jangka panjang yang luas atau jangka pendek yang sempit juga berpengaruh. Tema jangka pendek, misalnya Anime atau Game tertentu, maka Forum-nya akan ramai pada saat Anime atau Game terebut ramai saja. Andaikata Anime terebut sudah tamat, atau Game versi baru sudah tak dirilis lagi, maka kemungkinan besar Forum-nya akan vakum, sepi. Tema jangka pendek juga harus melihat kondisi, situsi, serta permintan pasar. Tema jangka panjang memang bagus agar untuk kelangsungan hidup Forum, hanya saja saat ini susah sekali mencari tema jangka panjang yang belum diangkat menjadi Forum. Forum bertema umum sudah banyak bertebaran, bertema Anime atau Game secara luas juga sering dijumpai, lagipula kebanyakan itu adalah Forum-Forum besar. Dan sudah barang tentu akan sangat sulit untuk bersaing. Sekali lagi lihatlah kondisi, situasi, serta permintaan pasar. Apakah tema yang kita angkat bersifat menjual atau tidak.

Agaknya kita harus merenung kembali, untuk apa kita membuat Forum, apa saja yang akan kita lakukan terhadap Forum kita, apakah kita serius, apa kita mempunyai rencana ke depannya, apa kita sanggup berkorban materi dan waktu demi forum kita, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tak perlu dijawab, hanya direnungkan.

Sebelum membuat Forum, hendaklah kita merencanakannya matang-matang, dan membuat persiapan untuk ke depannya, misalnya setelah Forum ramai maka akan membeli Web Hosting dan Domain, serta membuat Website, dan lain-lain.

Jika sekadar hanya untuk main-main, tidak mempunyai tujuan ke depannya, lebih baik urungkan kembali niat kita, sampai kita sudah mantap benar, barulah beraksi. Karena tak hanya kita yang akan dirugikan, orang lain pun rugi pula.

Fenomena banyaknya Forum masih terus berlangsung, dan mungkin akan terus sampai beberapa waktu ke depan.

Admin, Subjektif atau Objektif?

Seandainya anda menjadi seorang Admin Forum (atau sekarang pun anda berstatus sebagai Admin), apakah anda akan bertindak secara subjektif atau objektif?

Kita lihat contoh tindakan Subjektif seorang Admin, antara lain: Ia lebih memilih Member yang ia kenal untuk menjadi Staff Forum ketimbang Member yang memang berkualitas, namun tidak ia kenal. Atau ia terus-menerus memasang script-script yang memang memperindah Forum, walaupun kebanyakan Member banyak yang mengeluh karena kecepatan Forum menjadi sangat lambat.

Memang, kuakui, itu hak Admin, karena ialah yang mendirikan Forum. Tapi sebagai Admin, juga harus memperhatikan kepentingan Member. Tanpa Member, maka sia-sialah ia membuat Forum. Admin harus bersikap lebih condong ke Objektif, dengan selalu melihat suara Member, dan mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepuasan pribadinya.

Jangan katakan kalau itu adalah hak Admin untuk bertindak menurut dirinya sendiri, hanya karena ialah yang mendirikan Forum. Menjadi Admin bukan hanya sekadar mendapat hak, namun juga harus melaksanakan kewajiban dan berani bertanggung jawab terhadap Member.

Kita kembali ke sikap Subjektif Admin. Ada kalanya seorang Admin menunjuk Staff Forum hanya berdasarkan kekerabatan. Dalam hal ini kekerabatan bukan berarti hubungan keluarga, namun saling kenal. Ya, malah bagus jika Staff yang ditunjuk itu benar-benar melaksanakan tugas dengan baik serta penuh tanggung jawab. Jika ia malah seenaknya? Misalnya OOT di mana-mana, apakah itu bagus? Sekadar merenung, kita seharusnya tidak memilih atau memberi tanggung jawab kepada seseorang hanya karena kita mengenalnya, tapi kita juga harus memahami betul sifat-sifatnya. Apakah ia tipe orang yang mampu bertanggung jawab, ataukah hanya sekadar ingin bersenang-senang?

Dalam kasus di atas, seorang Admin yang Objektif mungkin akan benar-benar selektif dalam mengangkat Staff. Misalnya saja ia memberikan tes. Atau paling tidak ia memilih Member yang ia kenal, namun juga ia tahu kalau Member tersebut memang pantas menjadi Staff karena merupakan seorang yang rajin serta bertanggung jawab, tapi ia juga harus memperhatikan apakah masih ada Member lain yang juga pantas, walaupun ia tidak mengenalnya.

Kita maju pada kasus lain. Sering juga ditemui Admin yang terus-menerus berburu dan memasang script-script secara berlebihan di Forum. Memang tampilan Forum menjadi sangat bagus, dan dilengkapi dengan fitur-fitur yang lengkap. Cuma masalahnya banyak Member yang merasa bahwa kecepatan Forum menjadi sangat lambat. Admin yang Subjektif tentu tak akan peduli akan hal ini.

Mungkin ada lagi kasus lainnya, yang terasa agak memberatkan. Kali ini adalah Admin yang tidak memberikan sanksi kepada Member yang melanggar peraturan hanya karena ia mengenal baik Member tersebut. Misalnya saja, di peraturan Forum sang Admin menulis tentang peraturan avatar dan signature, kalau beberapa kali dilanggar, maka akan mendapat Warn Poin. Nah, ada seorang Member yang terus-terusan memakai avatar dan signature melewati batas yang diizinkan. Admin tahu hal tersebut, namun ia tak bertindak karena Member tersebut adalah temannya. Jika ia Admin yang Objektif, sudah barang tentu ia akan memperingati member tersebut, dan jika terus-terusan dilanggar, maka ia tak segan-segan memberi Warn Poin.

Sekarang kita beralih pada Admin yang Objektif. Admin yang Objektif tentu memperhatikan kepentingan umum, dan dapat dilihat dari tindakannya yang sering--tapi tak selalu--mendiskusikan terlebih dahulu sebuah rencana dengan para Staff dan Member sebelum melaksanakannya. Ia tak hanya mendengar pendapat Member yang ia kenal, namun juga pendapat Member-Member lain yang tak ia kenal, bahkan pendapat Newbie, atau Guest sekalipun. Ia juga tak ragu untuk memberi sanksi kepada siapa saja yang melanggar peraturan, meskipun itu adalah temannya. Bahkan jika ia sendiri melanggar peraturan, ia berani bertanggung jawab.

Paragraf-paragraf di atas hanyalah pendapatku tentang ke-subjektif-an dan ke-objektif-an, dan sama sekali bukan dalam arti yang mutlak, namuan hanyalah sekadar pendapat yang belum tentu benar adanya. Admin adalah pemimpin, bukan penguasa.